Tech

Tantang Dominasi Nvidia, Intel Bakal Produksi GPU untuk AI dan Gaming

5 min read
Tantang Dominasi Nvidia, Intel Bakal Produksi GPU untuk AI dan Gaming
Key Takeaways
  • Intel secara resmi mengumumkan rencana produksi GPU untuk menantang dominasi pasar Nvidia.
  • CEO Intel LipBu Tan menyampaikan strategi ini di Cisco AI Summit Februari 2026.
  • Fokus utama pengembangan GPU Intel adalah untuk mendukung pelatihan model kecerdasan buatan (AI).
  • Langkah ini diambil di tengah ketidakpuasan pasar seperti OpenAI terhadap suplai dan kualitas chip Nvidia.
  • Persaingan ini diharapkan membawa dampak positif bagi harga dan inovasi di sektor gaming dan teknologi.

Persaingan di industri semikonduktor global semakin memanas memasuki tahun 2026. Intel, raksasa teknologi yang selama ini dikenal sebagai raja prosesor komputer (CPU), kini secara terbuka menyatakan ambisinya untuk menggoyang dominasi Nvidia di pasar Unit Pemrosesan Grafis (GPU). Langkah strategis ini diumumkan langsung di tengah lonjakan permintaan chip untuk kecerdasan buatan (AI) yang belum pernah terjadi sebelumnya. Bagi para penggemar teknologi dan gamer, kabar ini membawa angin segar akan adanya kompetisi yang lebih sehat dan potensi inovasi baru yang lebih terjangkau.

"Rencana Intel ini tampaknya masih dalam tahap awal. Kami masih menggodok strategi pengembangan untuk memastikan produk yang dihasilkan mampu menjawab kebutuhan komputasi modern yang kian kompleks."

— Lip-Bu Tan, CEO Intel (Cisco AI Summit, Februari 2026)

Ambisi Intel Merebut Pasar GPU dari Nvidia

Dalam gelaran Cisco AI Summit yang berlangsung pekan ini, CEO Intel, Lip-Bu Tan, memberikan pernyataan mengejutkan mengenai peta jalan perusahaan ke depan. Berdasarkan laporan dari Tech Crunch pada Jumat (6/2/2026), Intel tidak lagi hanya ingin menjadi penonton dalam pesta pora industri AI yang saat ini dikuasai hampir mutlak oleh Nvidia. Rencana produksi GPU ini menandai poros baru bisnis Intel yang selama puluhan tahun nyaman dengan dominasi CPU-nya.

GPU atau Graphics Processing Unit, yang awalnya diciptakan untuk me-render grafis video game, kini telah berevolusi menjadi tulang punggung revolusi kecerdasan buatan. Kemampuan GPU dalam melakukan pemrosesan paralel secara masif membuatnya jauh lebih efisien daripada CPU untuk melatih model AI seperti GPT ataupun model generatif lainnya. Kekosongan pemain alternatif yang sepadan dengan Nvidia membuat harga chip AI melambung tinggi, dan inilah celah yang ingin dimasukin oleh Intel.

Mengapa GPU Menjadi "Emas Baru" di 2026?

Pergeseran fokus Intel ini tidak lepas dari tren pasar global. Data menunjukkan bahwa nilai ekspor chip dari negara-negara produsen utama seperti Korea Selatan melonjak drastis. Ekspor chip Korsel bahkan mencatat kenaikan 102 persen pada Januari 2026, menembus angka fantastis Rp344 triliun. Angka ini mencerminkan betapa hausnya dunia akan komponen semikonduktor canggih.

Perbedaan Fundamental CPU dan GPU

Untuk memahami mengapa langkah Intel ini krusial, kita perlu melihat perbedaan mendasar antara produk andalan mereka saat ini (CPU) dengan produk yang mereka targetkan (GPU):

  • CPU (Central Processing Unit): Dirancang untuk pemrosesan serial, ideal untuk menjalankan sistem operasi dan aplikasi harian. Memiliki inti (core) yang lebih sedikit namun sangat kuat.
  • GPU (Graphics Processing Unit): Dirancang untuk pemrosesan paralel dengan ribuan inti kecil. Sangat efisien untuk tugas yang berulang secara masif seperti rendering grafis game 3D atau kalkulasi matriks dalam Deep Learning.

Saat ini, Nvidia memegang kunci pasar karena ekosistem perangkat lunak (CUDA) dan perangkat keras mereka yang terintegrasi sempurna. Namun, kabar bahwa OpenAI dikabarkan tidak puas dengan kualitas chip Nvidia membuka peluang bagi pemain lain seperti Intel untuk menawarkan solusi alternatif.

Tantangan Berat Menghadang Intel

Meskipun memiliki sumber daya yang besar, jalan Intel untuk menantang Nvidia tidaklah mulus. Nvidia telah membangun benteng pertahanan yang kuat melalui dominasi pasar lebih dari 80% di sektor chip AI. Selain itu, raksasa teknologi lain juga tidak tinggal diam. Samsung, misalnya, baru saja mulai mengirimkan chip HBM4 (High Bandwidth Memory) pertama di dunia ke pelanggan, yang merupakan komponen vital untuk GPU berkinerja tinggi.

Intel harus membuktikan bahwa mereka tidak hanya mampu memproduksi silikon, tetapi juga membangun ekosistem perangkat lunak yang memudahkan para pengembang beralih dari Nvidia. Lip-Bu Tan mengakui bahwa strategi ini masih "digodok", menyiratkan bahwa produk fisik mungkin belum akan membanjiri pasar dalam waktu dekat, namun komitmen investasinya sudah jelas.

Dampak Bagi Industri Gaming dan Konsumen

Masuknya Intel secara serius ke pasar GPU high-end tidak hanya kabar baik bagi pengembang AI, tetapi juga bagi komunitas gamer. Persaingan usaha biasanya berujung pada harga yang lebih kompetitif dan inovasi fitur yang lebih cepat. Jika Intel berhasil memproduksi GPU yang bertenaga dengan harga yang lebih miring daripada seri RTX milik Nvidia, maka rakitan PC gaming di masa depan bisa menjadi lebih terjangkau.

GPU modern tidak hanya soal framerate tinggi, tetapi juga teknologi upscaling berbasis AI (seperti DLSS pada Nvidia atau XeSS pada Intel). Dengan fokus baru pada chip AI, teknologi upscaling Intel diprediksi akan semakin canggih, memungkinkan game berjalan mulus di resolusi 4K bahkan pada perangkat keras kelas menengah.

Peta Persaingan Teknologi 2026

Tahun 2026 tampaknya menjadi tahun penentuan bagi banyak raksasa teknologi. Selain Intel, laporan menyebutkan bahwa konsorsium perusahaan besar seperti Nvidia, Microsoft, dan Amazon akan menggelontorkan investasi hingga Rp1.000 triliun di OpenAI dan infrastruktur pendukungnya. Di sisi lain, ekonomi negara produsen chip seperti Taiwan diprediksi tumbuh 8,6 persen berkat ledakan permintaan ini.

Keterlibatan Intel bisa menjadi penyeimbang. Jika rantai pasok hanya bergantung pada satu produsen (Nvidia), risiko kelangkaan chip global akan sangat tinggi. Diversifikasi produksi oleh Intel adalah langkah mitigasi risiko bagi industri teknologi global secara keseluruhan.

Kesimpulan

Langkah berani CEO Intel Lip-Bu Tan untuk memproduksi GPU guna menantang dominasi Nvidia adalah sinyal kuat bahwa perang chip AI baru saja dimulai. Meskipun masih dalam tahap perencanaan strategi, potensi Intel untuk mengganggu pasar sangat besar mengingat sejarah panjang dan kapasitas manufaktur mereka. Bagi konsumen, baik itu perusahaan teknologi maupun gamer rumahan, kompetisi ini menjanjikan masa depan perangkat keras yang lebih cepat, lebih pintar, dan semoga, lebih terjangkau.

Bagi Anda para gamer yang selalu ingin up-to-date dengan perkembangan teknologi terbaru, memiliki perangkat keras terbaik hanyalah satu sisi mata uang. Sisi lainnya adalah menikmati game favorit Anda tanpa hambatan. Untuk urusan top-up game dan voucher digital yang aman, cepat, dan terpercaya, Nextive adalah solusi terbaik Anda. Pastikan pengalaman gaming Anda selalu maksimal bersama Nextive Gaming.

Pertanyaan Terpopuler

Intel ingin memecahkan dominasi Nvidia di pasar chip AI dan GPU yang saat ini sangat bergantung pada satu produsen, serta memanfaatkan permintaan pasar AI yang melonjak.
Rencana tersebut diumumkan oleh CEO Intel, Lip-Bu Tan, dalam acara Cisco AI Summit pada awal Februari 2026.
Persaingan yang ketat berpotensi menurunkan harga komponen PC seperti kartu grafis (VGA) dan mendorong inovasi fitur gaming yang lebih canggih.
Meskipun fokus utamanya adalah AI, pengembangan arsitektur GPU yang kuat biasanya juga akan diaplikasikan pada lini produk kartu grafis untuk konsumen (gaming).
Saat ini rencana tersebut masih dalam tahap penggodokan strategi pengembangan dan belum ada tanggal rilis resmi yang diumumkan.

Ditulis Oleh

Admin Nextive

Spesialis konten gaming dan top up yang berdedikasi untuk memberikan informasi terbaru, tips trik, dan update promo menarik seputar dunia game di Indonesia.