Tech

OpenAI Tuduh DeepSeek Jiplak Model AI Buatan AS: Analisis Lengkap Konflik Teknologi 2026

7 min read
OpenAI Tuduh DeepSeek Jiplak Model AI Buatan AS: Analisis Lengkap Konflik Teknologi 2026
Key Takeaways
  • OpenAI menuduh DeepSeek menggunakan metode 'distilasi' untuk meniru kemampuan model AI AS.
  • DeepSeek R1 diklaim dilatih menggunakan output dari model OpenAI, menghemat biaya dan waktu secara signifikan.
  • Praktik ini dianggap mengancam investasi miliaran dolar perusahaan AS seperti OpenAI dan Anthropic.
  • Memo OpenAI kepada Kongres AS menyoroti potensi ancaman keamanan dan bisnis dari strategi teknologi China.
  • Konflik ini mencerminkan eskalasi persaingan teknologi geopolitik antara AS dan China di tahun 2026.

Persaingan teknologi antara Amerika Serikat dan China kembali memanas di awal tahun 2026 ini. Kabar terbaru yang mengguncang industri teknologi global datang dari raksasa kecerdasan buatan, OpenAI, yang secara resmi melayangkan tuduhan serius kepada pesaingnya dari China, DeepSeek. Dalam sebuah memo yang ditujukan kepada Kongres Amerika Serikat, OpenAI menuduh bahwa DeepSeek telah melakukan praktik 'distilasi' atau penjiplakan metode untuk mengembangkan model AI terbaru mereka, R1. Isu ini bukan hanya sekadar masalah hak cipta, melainkan menyangkut dominasi geopolitik dan masa depan ekonomi digital global.

Ketegangan ini menyoroti betapa sengitnya perlombaan senjata di sektor AI. Di satu sisi, perusahaan AS seperti OpenAI dan Anthropic telah menghabiskan miliaran dolar untuk infrastruktur dan riset. Di sisi lain, DeepSeek muncul sebagai penantang yang mampu menghadirkan kemampuan serupa dengan biaya yang jauh lebih efisien, yang menurut OpenAI, didapat dari hasil menyalin 'pekerjaan rumah' model AI Amerika. Artikel ini akan mengupas tuntas tuduhan tersebut, mekanisme teknis di baliknya, serta dampaknya bagi industri teknologi.

Statistik Penting Industri AI 2026

Investasi infrastruktur AI oleh perusahaan AS seperti Microsoft, Amazon, dan Nvidia diperkirakan mencapai lebih dari Rp1.000 Triliun. Sebaliknya, DeepSeek berhasil meluncurkan model R1 dengan biaya pelatihan yang diklaim hanya sebagian kecil dari angka tersebut, memicu perdebatan mengenai efisiensi vs plagiarisme melalui metode distillation.

Apa Itu Metode Distilasi yang Dituduhkan OpenAI?

Inti dari perseteruan ini terletak pada istilah teknis yang disebut distilasi pengetahuan (knowledge distillation). Bagi masyarakat awam, istilah ini mungkin terdengar asing, namun dalam dunia machine learning, ini adalah praktik yang cukup umum namun kontroversial jika dilakukan lintas kompetitor tanpa izin.

Secara sederhana, distilasi adalah proses di mana sebuah model AI yang lebih kecil dan lebih efisien (disebut sebagai 'murid') dilatih menggunakan output atau jawaban yang dihasilkan oleh model AI yang lebih besar dan lebih cerdas (disebut sebagai 'guru'). Dalam kasus ini, OpenAI menuduh bahwa DeepSeek menggunakan model buatan mereka (seperti GPT-4 atau penerusnya) sebagai 'guru' untuk melatih model DeepSeek R1.

Mengapa Distilasi Menjadi Masalah Besar?

OpenAI berargumen bahwa metode ini memungkinkan DeepSeek untuk memotong jalan (shortcut). Berikut adalah alasan mengapa hal ini memicu kemarahan perusahaan AS:

  • Penghematan Biaya Ekstrem: Melatih model AI dari nol (from scratch) membutuhkan ribuan GPU canggih dan konsumsi listrik yang masif. Dengan distilasi, DeepSeek tidak perlu melakukan komputasi berat tersebut karena 'kunci jawaban' sudah disediakan oleh model OpenAI.
  • Ancaman Bisnis: OpenAI dan Anthropic mengenakan biaya berlangganan untuk layanan premium mereka guna menutup biaya riset. DeepSeek, yang seringkali menawarkan layanannya secara gratis atau open-source, dapat merusak harga pasar karena biaya produksi mereka jauh lebih rendah.
  • Transfer Kecerdasan: Memo OpenAI menyebutkan bahwa ada upaya terus-menerus untuk mentransfer kemampuan penalaran (reasoning capabilities) dari laboratorium AS ke entitas China tanpa biaya lisensi.

Analisis Memo OpenAI kepada Kongres AS

Berdasarkan laporan yang beredar pada Jumat, 13 Februari 2026, memo tersebut bukan sekadar keluhan bisnis, melainkan peringatan strategis kepada pemerintah Amerika Serikat. OpenAI menekankan bahwa prevalensi distilasi dapat mengancam kepemimpinan teknologi AS.

Dalam kutipan yang dilansir dari Bloomberg, OpenAI menyatakan: "Ada upaya yang terus-menerus untuk memanfaatkan kemampuan yang dikembangkan oleh OpenAI dan laboratorium terdepan AS lainnya." Pernyataan ini menyiratkan bahwa DeepSeek tidak benar-benar menciptakan inovasi baru, melainkan hanya 'mengemas ulang' kecerdasan yang telah dibangun oleh insinyur AS.

Respon Pasar dan Investor

Tuduhan ini muncul di tengah dinamika pasar yang menarik. SoftBank baru saja melaporkan keuntungan beruntun berkat investasi mereka di sektor AI, sementara penjualan kendaraan listrik (EV) global sedang lesu. Fokus investor kini beralih sepenuhnya ke efisiensi AI. Jika klaim DeepSeek tentang model R1 yang hemat biaya terbukti valid (terlepas dari cara mereka mendapatkannya), ini bisa mengubah peta investasi global. Investor mungkin akan mulai mempertanyakan perlunya belanja modal (CAPEX) ribuan triliun rupiah jika hasil serupa bisa dicapai dengan metode yang lebih hemat.

DeepSeek R1: Inovasi atau Imitasi?

DeepSeek, perusahaan yang berbasis di China, telah menjadi sorotan dunia karena merilis model-model AI yang sangat kompetitif dengan lisensi terbuka. Model R1 mereka dipuji oleh komunitas developer karena kemampuannya dalam logika dan pemrograman (coding) yang setara dengan model tertutup milik AS.

Namun, tuduhan OpenAI membuka diskusi etis yang mendalam. Apakah menggunakan output model lain untuk belajar adalah tindakan ilegal? Dalam analogi manusia, seorang siswa belajar dari buku yang ditulis oleh gurunya. Apakah siswa tersebut menjiplak jika ia menjadi pintar karena buku tersebut? Batasan ini masih abu-abu dalam hukum internasional terkait AI.

Bagi DeepSeek, strategi ini adalah cara untuk mendemokratisasi AI. Mereka tidak membebankan biaya tinggi, yang membuat teknologi ini lebih mudah diakses oleh pengembang di negara berkembang, termasuk Indonesia. Namun bagi AS, ini adalah pencurian kekayaan intelektual.

Dampak Geopolitik dan Perang Chip

Konflik OpenAI vs DeepSeek ini tidak bisa dilepaskan dari konteks perang dagang dan teknologi antara AS dan China. Sebelumnya, AS telah membatasi ekspor chip canggih (seperti Nvidia H100) ke China untuk menghambat kemajuan AI mereka. Namun, jika DeepSeek benar-benar menggunakan distilasi, mereka telah menemukan cara untuk mem-bypass hambatan hardware tersebut.

Dengan distilasi, kebutuhan akan chip canggih berkurang drastis. Ini membuat sanksi AS menjadi kurang efektif. Laporan juga menyebutkan bahwa OpenAI dikabarkan tidak puas dengan kualitas chip Nvidia terbaru, yang menambah kompleksitas masalah infrastruktur di AS. Sementara itu, China terus mencari cara untuk mandiri secara teknologi.

Potensi Regulasi Baru

Memo ke Kongres ini kemungkinan besar akan memicu regulasi baru. Pemerintah AS mungkin akan memperketat aturan mengenai bagaimana output model AI boleh digunakan. Bisa jadi akan ada proteksi hak cipta baru yang melarang penggunaan output AI untuk melatih model lain tanpa lisensi komersial. Jika ini terjadi, ekosistem open-source global bisa terkena dampaknya secara signifikan.

Apa Artinya Bagi Pengguna dan Industri Kreatif?

Bagi pengguna akhir, termasuk gamers, developer, dan konten kreator, persaingan ini sebenarnya membawa dua sisi mata uang. Di satu sisi, persaingan harga antara OpenAI dan DeepSeek akan membuat alat-alat AI menjadi semakin murah dan canggih. Kita mungkin akan melihat integrasi NPC (Non-Playable Character) yang sangat cerdas dalam video game dengan biaya server yang rendah berkat teknologi ala DeepSeek.

Namun, di sisi lain, ketidakpastian hukum bisa membuat platform-platform ini tidak stabil. Jika AS memblokir akses atau menuntut DeepSeek secara internasional, pengguna yang bergantung pada ekosistem tersebut bisa kehilangan akses. Stabilitas adalah kunci dalam adopsi teknologi.

Satu hal yang pasti, teknologi AI akan terus berkembang dengan sangat cepat. Baik melalui inovasi murni maupun adaptasi strategi distilasi, kecerdasan buatan akan semakin terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari kita, mulai dari asisten virtual, analisis pasar saham, hingga strategi gaming yang lebih canggih.

Kesimpulan

Tuduhan OpenAI terhadap DeepSeek mengenai penggunaan metode distilasi dalam pengembangan model R1 menandai babak baru dalam perang dingin teknologi. Ini bukan lagi sekadar siapa yang memiliki chip tercepat, tetapi siapa yang memiliki data dan metode pelatihan paling efisien. Bagi AS, ini adalah ancaman terhadap investasi miliaran dolar mereka. Bagi China, ini adalah strategi asimetris untuk mengejar ketertinggalan.

Sebagai penikmat teknologi, kita hanya bisa menunggu bagaimana regulasi akan terbentuk pasca memo ini. Namun, di tengah hiruk-pikuk teknologi yang serba cepat dan menuntut efisiensi, kebutuhan akan layanan yang cepat, aman, dan terpercaya tetap menjadi prioritas utama, baik itu dalam penggunaan AI maupun hobi digital Anda.

Sama seperti pentingnya memilih model AI yang tepat untuk pekerjaan Anda, memilih platform yang tepat untuk kebutuhan gaming Anda juga krusial. Jika Anda mencari kemudahan dan keamanan dalam bertransaksi untuk kebutuhan game favorit Anda, pastikan untuk selalu mengandalkan Nextive. Sebagai platform top-up terpercaya, Nextive Gaming berkomitmen memberikan layanan terbaik agar pengalaman bermain game Anda tidak terganggu oleh kendala teknis. Tingkatkan level permainan Anda bersama Nextive sekarang juga!

Pertanyaan Terpopuler

Distilasi adalah proses melatih model AI baru (murid) menggunakan output atau jawaban yang dihasilkan oleh model AI yang lebih canggih (guru), sehingga model baru bisa memiliki kemampuan serupa tanpa biaya pelatihan yang mahal.
OpenAI telah menginvestasikan miliaran dolar untuk infrastruktur. DeepSeek diduga memotong biaya tersebut dengan menjiplak output OpenAI, lalu menawarkan layanan gratis atau murah yang merusak model bisnis berlangganan OpenAI.
DeepSeek membantah tuduhan tersebut dan mengklaim inovasi mandiri. Namun, OpenAI berargumen bahwa kemajuan pesat DeepSeek dengan biaya rendah hanya mungkin terjadi melalui distilasi model AS.
Persaingan ini bisa memicu penurunan harga layanan AI dan inovasi lebih cepat, namun juga berpotensi memunculkan regulasi ketat yang membatasi akses ke model open-source di masa depan.
Berdasarkan laporan berita, memo tersebut dibahas di media pada pertengahan Februari 2026, khususnya dilaporkan oleh Bloomberg pada Jumat, 13 Februari 2026.

Ditulis Oleh

Admin Nextive

Spesialis konten gaming dan top up yang berdedikasi untuk memberikan informasi terbaru, tips trik, dan update promo menarik seputar dunia game di Indonesia.