- Ekonomi Indonesia tumbuh 5,11% sepanjang tahun 2025, menjadi fondasi kuat stabilitas nasional.
- Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 8% dalam lima tahun mendatang.
- Sektor elektronik tumbuh 4,13% (yoy) dan menjadi pilar Making Indonesia 4.0.
- Produktivitas tenaga kerja (PDB per tenaga kerja) meningkat lebih dari 3%.
- Pemerintah menyiapkan strategi hadapi tantangan global termasuk tarif impor dan rantai pasok.
Perekonomian Indonesia kembali menunjukkan resiliensi yang mengesankan di tengah ketidakpastian global. Menutup tahun 2025, Indonesia berhasil mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,11 persen. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan bukti nyata bahwa fondasi ekonomi nasional tetap kokoh meski dihadapkan pada dinamika rantai pasok global dan tantangan geopolitik. Namun, pemerintah tidak berpuas diri. Di bawah arahan Presiden dan koordinasi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, Indonesia kini menatap target yang jauh lebih ambisius: pertumbuhan ekonomi 8 persen dalam lima tahun mendatang.
"Indonesia menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen dalam lima tahun mendatang. Untuk mencapainya, kita perlu mendorong produktivitas nasional melalui pertumbuhan industri dan penyiapan tenaga kerja yang kompeten, termasuk di sektor elektronik sebagai salah satu industri unggulan dalam Making Indonesia 4.0."
— Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI
Capaian Ekonomi 2025: Fondasi Menuju Lompatan Besar
Pertumbuhan ekonomi sebesar 5,11 persen sepanjang tahun 2025 menjadi modal krusial bagi Indonesia. Di saat banyak negara maju masih berkutat dengan pemulihan pasca-krisis dan inflasi tinggi, Indonesia mampu menjaga stabilitas makroekonomi. Angka ini mencerminkan kuatnya konsumsi rumah tangga dan pulihnya investasi. Menko Airlangga Hartarto, dalam keterangannya pada Kamis (12/02/2026), menegaskan bahwa capaian ini adalah landasan pacu untuk transformasi ekonomi yang lebih luas.
Pemerintah menyadari bahwa untuk keluar dari middle-income trap dan menuju Indonesia Emas 2045, pertumbuhan di kisaran 5 persen saja tidak cukup. Target 8 persen yang dicanangkan bukanlah angka tanpa dasar, melainkan sebuah skenario optimis yang didukung oleh peta jalan hilirisasi dan industrialisasi.
Produktivitas Tenaga Kerja Meningkat
Salah satu indikator kualitatif yang menggembirakan dari data ekonomi 2025 adalah peningkatan laju Produk Domestik Bruto (PDB) per tenaga kerja yang diperkirakan naik lebih dari 3 persen. Ini menandakan bahwa tenaga kerja Indonesia semakin produktif dan efisien. Peningkatan produktivitas ini adalah kunci utama jika Indonesia ingin bersaing di pasar global, terutama dalam menarik Foreign Direct Investment (FDI) berkualitas tinggi.
Sektor Elektronik: Ujung Tombak Making Indonesia 4.0
Dalam strategi mengejar target pertumbuhan 8 persen, pemerintah tidak lagi hanya mengandalkan komoditas mentah. Fokus kini beralih ke reindustrialisasi, khususnya di sektor-sektor bernilai tambah tinggi. Sektor elektronik telah diidentifikasi sebagai salah satu pilar utama dalam peta jalan Making Indonesia 4.0.
- Kontribusi PDB: Hingga triwulan IV-2025, sektor elektronik berkontribusi sekitar 1,6 persen terhadap total PDB nasional.
- Pertumbuhan Sektoral: Sektor ini tumbuh sebesar 4,13 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
- Integrasi Global: Pemerintah mendorong integrasi lebih dalam ke Global Value Chain (GVC).
Pertumbuhan sektor elektronik sebesar 4,13 persen menunjukkan adanya permintaan yang kuat, baik dari pasar domestik maupun ekspor. Pemerintah terus mendorong agar pelaku industri di sektor ini tidak hanya menjadi tukang rakit, melainkan mulai masuk ke ranah inovasi dan pengembangan produk (R&D). Hal ini sejalan dengan upaya meningkatkan standar ketenagakerjaan dan tata kelola industri yang lebih bertanggung jawab.
Tantangan Global: Dari Rantai Pasok hingga Tarif Trump
Optimisme target 8 persen tentu dihadapkan pada realitas ekonomi global yang tidak menentu. Seperti diberitakan, dinamika politik global seperti kebijakan tarif dari Amerika Serikat di bawah pemerintahan Trump (yang kembali menjabat atau berpengaruh di 2026) menjadi variabel yang harus diwaspadai. Pemerintah Indonesia bersikap proaktif dengan memantau draf akhir kebijakan tersebut sebelum mengambil langkah strategis.
Selain itu, isu over supply baja global yang menembus 2,5 miliar metrik ton juga menjadi perhatian Menko Airlangga. Hal ini menuntut industri baja nasional untuk lebih efisien dan kompetitif agar tidak tergilas oleh serbuan produk impor murah. Di sisi lain, pemerintah juga harus jeli memanfaatkan peluang dari pergeseran rantai pasok global, di mana banyak perusahaan multinasional mencari basis produksi alternatif di luar Tiongkok (China Plus One Strategy), dan Indonesia adalah kandidat kuat untuk itu.
Menjaga Daya Beli dan Stabilitas Sosial
Pertumbuhan ekonomi makro yang tinggi tidak akan berarti jika tidak dirasakan oleh masyarakat luas. Oleh karena itu, pemerintah tetap menjaga jaring pengaman sosial. Menjelang Ramadan 2026, pemerintah telah menyiapkan penyaluran bantuan sosial (bansos) beras 10 kg untuk 35 juta penerima manfaat. Langkah ini krusial untuk menjaga daya beli masyarakat kelas bawah agar konsumsi rumah tangga—yang merupakan motor utama PDB—tetap terjaga.
Realisasi anggaran Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diproyeksikan mencapai Rp60 triliun di Triwulan I-2026 juga menjadi stimulus fiskal yang signifikan. Program ini tidak hanya meningkatkan kualitas sumber daya manusia jangka panjang, tetapi juga memberikan efek pengganda (multiplier effect) bagi ekonomi lokal melalui pemberdayaan UMKM penyedia makanan.
Pentingnya Investasi Berkelanjutan
Untuk mencapai target 8 persen, peran investasi swasta sangat vital. Kepala Badan Kebijakan Fiskal dan para pengamat ekonomi, seperti Purbaya Yudhi Sadewa, mengajak investor untuk tidak wait and see. Stabilitas politik pasca-pemilu dan kejelasan arah kebijakan ekonomi di bawah pemerintahan saat ini seharusnya menjadi sinyal positif bagi para pemodal.
Anda dapat memantau data resmi pertumbuhan ekonomi ini melalui situs resmi Badan Pusat Statistik (BPS) atau membaca laporan lengkap kebijakan ekonomi di laman Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.
Kesimpulan
Target pertumbuhan ekonomi 8 persen dalam lima tahun ke depan adalah ambisi besar yang memerlukan sinergi antara pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat. Dengan modal pertumbuhan 5,11 persen di tahun 2025, fokus pada sektor elektronik, dan peningkatan produktivitas tenaga kerja, Indonesia berada di jalur yang tepat. Namun, kewaspadaan terhadap dinamika global tetap diperlukan agar momentum ini tidak terganggu.
Bagi Anda yang ingin menikmati waktu luang sembari memantau perkembangan ekonomi dan investasi, hiburan digital bisa menjadi pilihan tepat. Untuk pengalaman bermain game yang lancar tanpa hambatan, pastikan kebutuhan top-up game Anda terpenuhi hanya di Nextive Gaming. Nextive menyediakan layanan top-up tercepat, aman, dan terpercaya untuk mendukung gaya hidup digital Anda di tengah kesibukan mengejar peluang ekonomi.